Pagi itu pagi sunyi, pagi itu menyapa tanpa kata terpatah
Dimataku berkabut biru, dan milikmu satu yang abu
Aku tersenyum, dan kau pun tersenyum
Bayangku terpantul pada kolam purnama, dan disana ada dirimu
Kita bercanda tentang sunyi, kutanya, dan kau berlalu pergi
Dan kolam itu menguap, bersama muncul mentari
Dimana dirimu?
Aku termenung, tercenung, termangu terdiam
Daun di dekatku berguguran, batu pijakku melapuk
Tapi tak kutemui dirimu, aku menanti hujan lembut
Mengisi kolam itu, menandakan hadirnya simpul sederhana, tersungging bermakna
Lalu kapan itu tiba?
Aku biarkan tuaku yang menahun, kerutku terpahat
Aku biarkan kakiku mengakar, tak geming candaku bersama badai
Aku biarkan punggungku terbakar, sampai matang kiranya panggangan
Dan aku biarkan warnaku menghitam, aku buta
Tahun berapa sekarang?
Ini pagi kembali, kuberasa lembut sentuhan, lembut yang terekam
Tapi aku buta, hitam warnaku memandangmu
Jasadku telah melapuk sempurna
Aku tak tahu, aku merasakan kesejukan, lembut sebagaimana hujan dulu
Lalu kubertanya, “kenapa engkau menangis?”
Tanya yang tersimpan erat
Bersama burung camar, yang mengantarmu ke peraduan
Juga gemintang, bersabar menyelimutimu dengan malam
Dan mentari, tuk membuka lembut matamu di ufuk timur










Kata Mereka