Baru tadi malam, aku melihatnya di jalanan
Terseok berjalan…menyeret kaki dan memicingkan tatapan
Kemana gerangan ruh yang tercipta akan fitrahnya
Aku kira, mentari tak ubahnya gelap dalam malam….
Jejakku dan jejakmu, tak menapak jalan emas
Tak pula jalan yang bercabang
Dimana selimut yang selalu bersama malam?
Pelelap harap mereka yang tak berpikir akan senang…
Malamnya tak ubahnya siang, mentari tak ubahnya rembulan…
Atapnya hanyalah kerdipan mata gemintang
Malam kan jadi selimutnya, membingkai harap sederhana…
Agar esok mentari tetap menjadi teman setia…









Kata Mereka