Posts Tagged 'Halaman Syair'

Kota Tua

3089166612_330dc88ae0_m

Kayuh sepeda berlomba dengan peluh
Ini dinding kota tempat kita biasa berdua
kita bercerita tentang apa itu bijaksana…
November lalu, seakan rantai sepeda berderik penuh iri…
Aku mengenalmu…dengan tawa canda riang…

Kota ini telah bertambah tua sayang…
Hujan kala itu, tak bosan kiranya melapukkan sudut-sudut kota
Dan segaris pelangi tertinggal sebagai tanda

Ingatkah kau?

Dulu kita berteduh di sebuah toko tua
sejenak ku berharap…”Jangan Engkau hentikan hujan ini Ya Rabbi…”
Pantulan matamu bening…bercerita satu harap serupa

Roda ini terus berputar sayang…
begitu pula dengan kita

Mengayuh sepedaku kini tetap berpeluh
Dan sudut-sudut kota itu semakin lapuk
Derik rantai bercerita kembali

Dan November kini…aku kembali berteduh di sebuah toko tua

Kau tahu?
Ingatanku tertarik ke masa itu…
Saat sudut-sudut hujan itu…
Mengalunku pada satu harap sederhana
“Jangan Engkau hentikan hujan ini Ya Rabbi…”
Tanpa bening matamu kini

November Menahun

smog-gate

Pagi itu pagi sunyi, pagi itu menyapa tanpa kata terpatah
Dimataku berkabut biru, dan milikmu satu yang abu
Aku tersenyum, dan kau pun tersenyum
Bayangku terpantul pada kolam purnama, dan disana ada dirimu
Kita bercanda tentang sunyi, kutanya, dan kau berlalu pergi
Dan kolam itu menguap, bersama muncul mentari

Dimana dirimu?

Aku termenung, tercenung, termangu terdiam
Daun di dekatku berguguran, batu pijakku melapuk
Tapi tak kutemui dirimu, aku menanti hujan lembut
Mengisi kolam itu, menandakan hadirnya simpul sederhana, tersungging bermakna
Lalu kapan itu tiba?

Aku biarkan tuaku yang menahun, kerutku terpahat
Aku biarkan kakiku mengakar, tak geming candaku bersama badai
Aku biarkan punggungku terbakar, sampai matang kiranya panggangan
Dan aku biarkan warnaku menghitam, aku buta

Tahun berapa sekarang?

Ini pagi kembali, kuberasa lembut sentuhan, lembut yang terekam
Tapi aku buta, hitam warnaku memandangmu
Jasadku telah melapuk sempurna

Aku tak tahu, aku merasakan kesejukan, lembut sebagaimana hujan dulu
Lalu kubertanya, “kenapa engkau menangis?”
Tanya yang tersimpan erat
Bersama burung camar, yang mengantarmu ke peraduan
Juga gemintang, bersabar menyelimutimu dengan malam
Dan mentari, tuk membuka lembut matamu di ufuk timur

Maka Berhijablah

Kami sulit menahan pandangan mata
ketika melihat kalian,
apalagi jika kalian diamanahkan ALLAH
kecantikan dan postur yang ideal, kami semakin susah untuk menolak agar tidak
melihat kalian, karena itu lebarkanlah
pakaian kalian, dan tutupilah rambut
hingga ke dada kalian dengan
kerudung yang membentang.
Kami juga sulit menahan pendengaran
kami ketika berbicara dengan kalian,
apalagi jika kalian diamanahkan
oleh ALLAH suara yang merdu dengan Continue reading ‘Maka Berhijablah’

Diam Kami Bukan Tanpa Arti

maka aku pun terhening

aku tak mampu berteriak, tak mampu pula tuk mencaci

karena kita berdiri di pinggir jurang yang sama. Dasar yang gelap, tajam, dan terjal menanti tubuh dan semangat kita

aku tahu, dan kau pun tahu, teriakan itu tak mengubah apapun

derap langkahmu tak mampu menggoyang Bumi sedikitpun

kita kan selalu berusaha menjaga nyala lentera, tapi kau pun harus paham, dimana ada terang, disitulah ada gelap

engkau menyalakan pelita, dan bayangan kan jadi teman setia

ingatlah, kami diam, tak berarti kami tak peduli

peluh dan cita kami pun menetes dalam tiap jejak keterasingan

di antara kalian yang berteriak lantang, kami berjuang

sebab kami tahu, jalan kembali bagi negeri kita, tidak terletak pada jalan tempat kalian meneriakkan tuntutan nurani

jalan kembali bagi negeri kita, tidak terletak pada aspal tempat kalian membakar ban

(…saya berpikir, dengan apa yang dilakukan oleh sebagian sodara-sodara kita yang berdemo akhir-akhir ini. Terutama para mahasiswa yang melakukan perusakan-perusakan waktu berdemo. Humh….capekk… :-( )



"Assalamu'alaikum...Mari berbagi, dengan saya yang sederhana. Ahlan Wa Sahlan Wa Marhaban...singgah dulu ya...


Blog Juga Hasil Karya Cipta Lho

Blog Community

Suarakan Blogmu!

Wishnu Erlangga's Facebook profile