Archive Page 2

Kota Tua

3089166612_330dc88ae0_m

Kayuh sepeda berlomba dengan peluh
Ini dinding kota tempat kita biasa berdua
kita bercerita tentang apa itu bijaksana…
November lalu, seakan rantai sepeda berderik penuh iri…
Aku mengenalmu…dengan tawa canda riang…

Kota ini telah bertambah tua sayang…
Hujan kala itu, tak bosan kiranya melapukkan sudut-sudut kota
Dan segaris pelangi tertinggal sebagai tanda

Ingatkah kau?

Dulu kita berteduh di sebuah toko tua
sejenak ku berharap…”Jangan Engkau hentikan hujan ini Ya Rabbi…”
Pantulan matamu bening…bercerita satu harap serupa

Roda ini terus berputar sayang…
begitu pula dengan kita

Mengayuh sepedaku kini tetap berpeluh
Dan sudut-sudut kota itu semakin lapuk
Derik rantai bercerita kembali

Dan November kini…aku kembali berteduh di sebuah toko tua

Kau tahu?
Ingatanku tertarik ke masa itu…
Saat sudut-sudut hujan itu…
Mengalunku pada satu harap sederhana
“Jangan Engkau hentikan hujan ini Ya Rabbi…”
Tanpa bening matamu kini

Sending You My Heart

sending-you-my-heart

Fiuuhh… gambar ini… (cie…nu?habis nabrak apa?so swit gini postingannya…) ehm…kali ini saya lagi pingin posting yang romantis-romantis aja deh… gubrak, kayak apa jadinya:mrgreen: . Gambar ini, maw saya kasih kepada dia… yang akan menemani langkah saya kelak…menatap mentari bersama, dia…yang akan menyambutku dengan satu senyum sederhana, senyum kebanggaan untuk menyambutku sebagaimana adanya… :-)

November Menahun

smog-gate

Pagi itu pagi sunyi, pagi itu menyapa tanpa kata terpatah
Dimataku berkabut biru, dan milikmu satu yang abu
Aku tersenyum, dan kau pun tersenyum
Bayangku terpantul pada kolam purnama, dan disana ada dirimu
Kita bercanda tentang sunyi, kutanya, dan kau berlalu pergi
Dan kolam itu menguap, bersama muncul mentari

Dimana dirimu?

Aku termenung, tercenung, termangu terdiam
Daun di dekatku berguguran, batu pijakku melapuk
Tapi tak kutemui dirimu, aku menanti hujan lembut
Mengisi kolam itu, menandakan hadirnya simpul sederhana, tersungging bermakna
Lalu kapan itu tiba?

Aku biarkan tuaku yang menahun, kerutku terpahat
Aku biarkan kakiku mengakar, tak geming candaku bersama badai
Aku biarkan punggungku terbakar, sampai matang kiranya panggangan
Dan aku biarkan warnaku menghitam, aku buta

Tahun berapa sekarang?

Ini pagi kembali, kuberasa lembut sentuhan, lembut yang terekam
Tapi aku buta, hitam warnaku memandangmu
Jasadku telah melapuk sempurna

Aku tak tahu, aku merasakan kesejukan, lembut sebagaimana hujan dulu
Lalu kubertanya, “kenapa engkau menangis?”
Tanya yang tersimpan erat
Bersama burung camar, yang mengantarmu ke peraduan
Juga gemintang, bersabar menyelimutimu dengan malam
Dan mentari, tuk membuka lembut matamu di ufuk timur

Ride Your Bike

my-bike1Naik sepeda itu enak, sehat, bakar lemak, murah pula. Apalagi hari minggu kayak gini, setelah sebelumnya janjian sama temen sekos, rahmat. Road to monas tour d’jakarta :-) . Hari minggu,habis subuh kita siap-siap, cek angin ban, bawa minum…then let’s go!! jam 5kurang kita berdua berangkat dari kos. Sepeda kesayangan saya dari ceger tangerang kita ke arah kreo, trus ambil arah kebayoran baru…sekitar 20menitan nyampe pakubuwono residence belok kiri, teruuusss…..nyampe jalan sudirman. Ini nih enak, kalo minggu sudirman ditutup buat mobil ma motor, jadi jalan lebar itu dipake buat lari-lari atw naik sepeda, sekali-kali kendaraan bermotor ngalah , itung2 ngurangin polusi juga ya pak . Dari sudirman teruuusss aja, sepanjang mata memandang, aspal menjelang. Hmm…jakarta emang indah kalo minggu(hari lain gak :-) ) setelah mengayuh sepanjang jalan, keringat bercucuran,perut berontak minta makan akhirnyaaa…. :-D monumen eskrim keliatan  (puncaknya , menurut saya, gak mirip api, malah mirip eskrim meiji gitu, damae ya pak) …jam menunjukkan pukul 6.05 wuuuzzz…rame bangettt!!!! udah banyak banget orang dateng. Dari yang kecil sampe yang gede, yang tua muda, yang masih sendiri saya sampe yang beristri, yang unik sampe aneh bin ajaib… kumpul jadi satu… ada komunitas sepeda juga, kebanyakan bapak-bapak or lansia, salah satunya bike to work(bener gak ya) hahaa…seneng banget…!!! ada yang unik juga, bapak-bapak tua make sepeda yang udah dimodif. jadi di sepeda si bapak itu dipasang speaker+aki, dengan asiknya si bapak ini tanpa dosa muter-muter monas sambil nyetel lagu2… 1kali…2kali..3kali…4kali si bapak ni muterin monas…wew, mudah2n sehat selalu ya pak!!!! terus, karena waktu yang semakin terbatas, matahari yang semakin panas, dan tugas yang menanti dengan manisnya di meja saya, kita berdua putuskan untuk pulang. Wahh..lumayan, seger banget…minggu depan lagi ya mat!! Waktu balik, karena perut yang gak maw kompromi, kita niat untuk nyari makan. Balik lagi ke sudirman…clingg…clingg ada sesuatu yang menyilaukan…menarik pandangan, ohh…..ternyata bubur kacang ijo… hehe, lapar yang indah… disambut dengan semangkok burjo hangat..hmmm, enak banget ni burjo…manisnya pas…legitnya khas..aromanya mantabb!!  makasih pak… kapan2 lagi ya… habis itu, dengan tidak lupa membayar burjonya si bapak kita lanjut..pulang…capekk…seneng…KO… :-) fuuhh…

Kalo Hujan Tak Butuh Payung

2338980642_b726f3ec1a_b1Ketika hujan tak lagi membutuhkan payung…kan ada jas hujan iya…enakan ujan-ujanan :-) . Jadi inget waktu kecil dulu, seneng banget kalo ujan, keluar rumah, trus ujan-ujanan ma kakak tercinta…habis itu, ibu langsung marah. :-) Ga papalah, yang penting seneng. Ngemeng-ngemeng soal hujan menghujan…-halah-…ada satu blog yang ownernya kayaknya cinta banget sama hujan… (sapa hayo?) Blog yang bagus, blog saya gak ada apa-apanya kalo dibandingin ama blognya si pecinta hujan. Fiuhh… sebagaimana hujan yang turun akan membasahi Bumi dan seisinya, mudah-mudahan pemilik blog itu pun beroleh hal yang sama, hatinya akan senantiasa basah dengan iman, bibirnya senantiasa basah pula dengan lantunan dzikir, dan tumbuhlah subur berbunga amal dan akhlak yang indah, seindah kembang menjemput hujan dan sesubur pepohonan menjulang ke langit.
Pun penantiannya tuk bertemu Allah…sebagaimana tanah kering tak lelah menunggu hujan yang turun.

Asing

391068304_2bf765357e_b

Aku bersandar pada tembok keterasingan
Kutatap langkah datang dan pergi
Dan semua, tak membekas jejak Bumi

Ini jejakku,
Tak seperti dirimu
Atau mereka

Jalan ini tidak berbilang

Dan lurusnya..adalah selurus-lurusnya jalan

Mengenang Sahabat

Aku kembali teringat tempat itu, satu sudut tempatku bersandar

Menatap langkah datang dan pergi… menuju satu tempat yang terpilih untuk didatangi

Langkahmu adaalah pilihan kawan

dan pilihanmu adalah takdir yang menanti di ujung jalan itu

Mereka yang berlalu lalang… Tiap langkah terekam dalam getar Bumi

Dan langkahmu… terpilih tuk kurekam dalam penaku

Angin berlalu, dan mengabarkanku cerita akhirmu

Di ujung jalan itu kawan…tercium bau mesiu

Juga darah…

Darah yang membekas merah

Aku kira rembulan akan berdarah malam ini

Tembok di belakangku pun seketika runtuh

Semua langkah terhenti, kecuali milikmu…

Maka biarkanku mengantarmu, menjelang peristirahatan terakhirmu

« Previous PageNext Page »



"Assalamu'alaikum...Mari berbagi, dengan saya yang sederhana. Ahlan Wa Sahlan Wa Marhaban...singgah dulu ya...


Blog Juga Hasil Karya Cipta Lho

Blog Community

Suarakan Blogmu!

Wishnu Erlangga's Facebook profile