
Kayuh sepeda berlomba dengan peluh
Ini dinding kota tempat kita biasa berdua
kita bercerita tentang apa itu bijaksana…
November lalu, seakan rantai sepeda berderik penuh iri…
Aku mengenalmu…dengan tawa canda riang…
Kota ini telah bertambah tua sayang…
Hujan kala itu, tak bosan kiranya melapukkan sudut-sudut kota
Dan segaris pelangi tertinggal sebagai tanda
Ingatkah kau?
Dulu kita berteduh di sebuah toko tua
sejenak ku berharap…”Jangan Engkau hentikan hujan ini Ya Rabbi…”
Pantulan matamu bening…bercerita satu harap serupa
Roda ini terus berputar sayang…
begitu pula dengan kita
Mengayuh sepedaku kini tetap berpeluh
Dan sudut-sudut kota itu semakin lapuk
Derik rantai bercerita kembali
Dan November kini…aku kembali berteduh di sebuah toko tua
Kau tahu?
Ingatanku tertarik ke masa itu…
Saat sudut-sudut hujan itu…
Mengalunku pada satu harap sederhana
“Jangan Engkau hentikan hujan ini Ya Rabbi…”
Tanpa bening matamu kini












Kata Mereka