Kadang aku bertanya… “kapan aku harus berhenti berjalan?”
Hmm… banyak hal-hal yang telah kulewati. Orang-orang tercinta pun satu persatu pergi…ayah, ibu,…tak ada kata pamit, atau izin…karena memang izin itu mutlak kuasaNya…
Kematian itu dekat kawan… coba berikan satu alasan dirimu bisa lepas darinya…
Jika kau mampu tentunya, dan aku yakin kau tak mampu…sebagaimana diriku
Karena memang kita tak usah mempertanyakan…
Hanya terus berjalan…
Pada akhirnya langkahku kan terhenti
Meski aku tak ingin…









mau tidak mau kita pasti akan mendatangi yang namanya kematian.
Sebagian ulama salaf pernah mengeluhkan bahwa sedikitnya bekal sedang perjalanan begitu panjang.
Ya, kehidupan dunia itu sebentar.Marilah kita mengumpulkan bekal sebanyak-banyaknya…
Kunjungan balasan…
Mas Engkau tak kan pernah berhenti berjalan, meski kaki telah lumat oleh tanah, meski mata memandang kegelapan bumi, meski mulut tersumbat kapas kematian, meski tubuh luluh dalam belaian bumi…
“Aku lebih dekat kepadamu, daripada kamu ke urat lehermu sendiri”
Tolong di kaji:
“Ngantuk” beda dengan “Mantuk”, maka “Ngati-ati” harusnya menjadi “Mati-Mati” dalam hidup ? Bandingkan dengan “Ilaihi Rojiuun”…
S.E.M.A.N.G.A.T!!!!!
nice masyaAllah, contemplative..