Waktu itu hari Sabtu, entah tanggal berapa, kira-kira dua bulan yang lalu. Saya sama paman lagi perjalanan ke bogor naik mobil. Bertiga dimobil itu, saya, paman, sama supir. Tadinya rencana mau ke RS Harapan Kita buat ngecek penyakit saya yang gak jelas. Tapi karena paman ada janji sama koleganya di CItos(cilandak town square) dan jadwal pertemuan yang diperkirakan gak lama ternyata molor sampai isya, yah…akhirnya kita nginap aja di rumah di bogor. Pas perjalanan ini, kita makan di warung makan kakilima di daerah mana lupa…udah masuk bogor. Tiba-tiba ada seorang peminta-minta yang datang. Usianya mungkin sekitar 50an lah. Dengan pakaian yang lusuh, si bapak tadi mengulurkan tangannya ke kami…dan paman memberi isyarat pada saya untuk membiarkan si bapak tadi, tapi entah…akhirnya saya ambil uang seribuan di katong lalu saya berikan ke bapak tadi, dan si bapak tersenyum mengucapkan terimakasih. Setelah itu, paman saya menanyakan kenapa dikasih, bingung…saya diem aja. Terus paman bilang lagi kalo itu peminta harusnya bisa kerja, ya intinya dia hanya orang yang malas bekerja terus minta-minta. Silent mode:on…. Ohh…bingung juga dalam hati. Memang banyak juga yangmengatakan kalo banyak dari pengemis itu (terutama yang masih sehat) hanya orang yang malas kerja aja. Jadi ada yang menyarankan untuk tidak member uang pada pengemis biar dia mau berubah dan berusaha mencari pekerjaan yang lebih baik. Terlepas dari semua itu, tidakkah sepatutnya jika kita memiliki kelapangan harta kita berikan pada mereka yang memang membutuhkannya. Ketika kita memberi pun, bukankah akan lebih selamat jika kita berprasangka baik terhadap mereka, bahwa mereka memang benar-benar membutuhkan. Apalagi melhat kondisi keuangan Negara kita yang marut-marut, dimana mencari pekerjaan bukanlah satu hal semudah membalik telapak tangan. Tidak terkecuali bapak-bapak yang saya temui di Bogor tadi, perlu diketahui aja, waktu itu udah sekitar jam 10 malam, dan baru hujan. Kita bayangkan lagi, seorang bapak-bapak, usia 50an(udah lumayan tua, pasnya gak tahu berapa), pas hujan-hujan, sendirian(ya iyalah, masa rame-rame, malak dum namanya), sekitar jam 10 malam minta-minta sedikit aja dari kelapangan harta yang kita punya. Masalah hati hanya Allah yang tahu, kita hanya bisa menghukumi apa yang tampak. Oh iya, tenyata… Bogor itu indah…hwehehe…jadi pengen punya rumah di Bogor…udaranya sejuk, gak terlalu dingin. Jadi, mudah-mudahan harta yang kita miliki tidak menjadi fitnah bagi kita, dan harus diingat, ada hak-hak bagi fakir miskin pada harta yang kita miliki.
Dimana Amanah Itu Kau Letakkan?
Published January 18, 2009 Beranda Rumah 7 CommentsTags: amanah harta, bogor, fakir miskin, hak-hak fakir miskin, pengemis









kalo di jakarta, udah ada perda yang melarang untuk memberikan uang kepada pengemis
tapi ketika yang meminta-minta itu adalah orang yang seumuran dengan orang tua kita…
|sight|
kasi daaaah.. inget surah Al-Maa’un akh..
Waah, no comment dah…
“sendirian(ya iyalah, masa rame-rame, malak dum namanya)”
Pernah di palak orang ga’ Wish?? Hm, mesti ga’ pernah ya..
Orang yg mw malak mesti kasian, ga’ tega stlh liat wjhmu, hehehe,
sedekah itu indah
Berbagi tidak ada ruginya.
hmmm… motto IBSN.
Lamnal
ajuin mutasi sahabatku ke Bogor…tapi jangan dink ntar malah dilempar ke luar jawa hehehe..
salam kenal dari blogger baru yang baru mengenal sebuah blog dalam berbagi cerita cinta
gimana kalo semakin banyak sedekan akan memancing semakin banyaknya manusia bermental pengemis?
apa sedekah masih dianggap baik?
mungkin ada baiknya kalau kita langsung menyalurkan uang kita lewat badan amal yang sudah dipercaya…